Rabu, 13 Januari 2010

Dilema Wirausahawan: Beberapa Hambatan Psikologis

Bagi seorang atau sekelompok wirausahawan, salah satu dilema yang umum dihadapi ketika perusahaannya menjadi berkembang adalah pilihan dalam menentukan gaya bisnis apa yang sebaiknya diterapkan di dalam manajemennya. Ketika perusahaan masih berskala kecil, manajemen keluarga masih bisa digunakan, tetapi semakin lebar perkembangan usaha maka gaya manajemen pun harus berkembang karena tidak lagi mampu dikelola oleh anggota keluarga. Banyak wirausahawan yang memilih untuk tidak mengembangkan perusahaan karena mereka tidak ingin kehilangan kemampuan untuk mengendalikan perusahaan yang dimilikinya. Bagi sebagian orang mengembangkan usaha lebih lanjut berarti harus merelakan dirinya untuk berbagi "kuasa" dan tanggungjawab kepada orang lain yang dianggap profesional. Disinilah dilema mulai terjadi, karena disatu sisi si wirausahawan ingin tetap memegang kendali usaha tetapi di sisi lain dia dihadapkan pada beberapa keterbatasan yang membuatnya tidak dapat lagi mengontrol semua hal dalam perusahaannya. Pertanyaan yang layak kita ajukan kemudian adalah mengapa para wirausahawan cenderung menjadi ragu untuk mengubah gaya manajemen keluarga menjadi manajemen profesional? Hambatan-hambatan apa yang menjadi penghalang bagi wirausahawan untuk menyerahkan kendali perusahaan kepada para profesional yang diperkerjakannya? Artikel ini ditulis dalam rangka mencoba menjawab hal-hal tersebut.Manajemen Keluarga vs Manajemen ProfesionalGaya bisnis dengan manajemen keluarga pada umumnya diterapkan pada awal berdirinya perusahaan karena memang kebutuhan akan gaya ini masih terasa sangat kental. Modal dan kegiatan usaha umumnya masih terbatas dan masih mampu ditangani oleh pemilik dan keluarganya. Karyawan yang direkrut dan dipekerjakan masih berkisar pada mereka yang berfungsi sebagai pembantu kegiatan operasional rutin dan bukan sebagai pemecah-masalah (problem solver) atau pembuat keputusan (decision maker). Strategi perusahaan tidak rumit, hanya sebatas bagaimana caranya mempertahankan kelangsungan bisnis dan tetap menghasilkan keuntungan. Manajemen hanya merupakan pengelolaan sumberdaya sederhana, tanpa perlu perhitungan bisnis atau perencanaan yang rumit. Selama perusahaan masih menghasilkan keuntungan yang diharapkan, strategi dan operasi tidak akan berubah banyak dari waktu ke waktu. Gaya ini sering dipakai untuk perusahaan skala menengah dan kecil dan dikenal sebagai “manajemen warung” karena industri yang sering menggunakan manajemen ini adalah industri distribusi dalam skala kecil dan bukan industri manufaktur, seperti misalnya industri ritel.Jika perusahaan memiliki kesempatan untuk berkembang dan pemilik menghendaki/mampu memodali perkembangan itu, maka dia akan menambah investasi dan mengembangkannya. Kebutuhan sumberdaya akan bertambah mengikuti arah dan tujuan perkembangannya termasuk kebutuhan sumberdaya manusia untuk mengelola kegiatan operasional dan manajemen. Dengan kata lain pada tahapan ini si wirausahawan mulai memasuki gaya manajemen profesional. Di sinilah awal dilema seorang wirausahawan. Di satu sisi, ada keinginan untuk melipat gandakan keuntungan tetapi di sisi lain ada ketakutan dan rasa ketidak-pastian karena dengan gaya manajemen profesional ia harus mulai membagi tanggungjawab dan fungsi-fungsi lainnya di dalam perusahaan. Seorang wirausahawan yang memang memiliki “keberanian” atau “guts” untuk maju akan menggunakan setiap kesempatan “at all costs”, artinya dia akan mengejar kesempatan dengan atau tanpa memperhitungkan risiko-risiko yang ada di hadapannya. (Lihat Artikel: Risiko yang Dihadapi Wirausahawan)Proses AdaptasiSehubungan dengan perubahan gaya manajemen keluarga ke manajemen profesional yang diterapkan oleh perusahaan maka secara otomatis akan terjadi pergeseran kendali dari pemilik kepada para profesional yang dipekerjakan oleh si pemilik. Dalam kenyataan seringkali dijumpai bahwa antara pemilik dan para profesional tidak memiliki kesamaan visi dan titik temu dalam memajukan perusahaan. Para pemilik yang seringkali terlalu bernafsu untuk mengembangkan perusahaannya seringkali merasa kecewa karena meskipun telah mempekerjakan para profesional yang terbaik dan sudah terkenal ternyata tidak banyak membawa angin perubahan yang mengarah pada kemajuan perusahaan. Sebaliknya para profesional yang merasa dirinya sangat kompeten seringkali menjadi bingung dan tidak bisa berbuat apa-apa karena kurangnya pemahaman terhadap kebutuhan atau pun visi dari si pemilik. Akhirnya tidak jarang hubungan kerja semacam ini justru berakhir dengan kekecewaan di kedua belah pihak.Tak dapat dipungkiri, para wirausahawan dan profesional memerlukan waktu yang cukup banyak untuk berinteraksi, sehingga di antara mereka ada ikatan kesamaan dalam bekerja. Waktu interaksi ini tidak cukup didapatkan dari proses interview ketika akan masuk kerja tetapi justru banyak diperoleh dari komunikasi informal. Salah satu kesalahan para wirausahawan adalah melalaikan proses ini dan menganggap bahwa para profesional terbaik yang diperkerjakannya sudah akan otomatis mengerti akan keinginan, kebiasaan, dan pola pikir mereka.Sebenarnya ada banyak cara bagi wirausahawan dan profesional untuk saling mengenal sebelum proses hiring difinalkan. Proses alami, tentu saja melalui pertemuan informal seperti makan siang atau hanya sekedar mengobrol biasa. Cara lain yang lebih cepat adalah dengan menggunakan jasa konsultan/ psikolog industri & organisasi yang bisa secara obyektif berfungsi sebagai mediator bagi percepatan ikatan ini. Para konsultan tersebut akan dapat membantu mencari titik temu antara kedua individu tersebut sehingga bisa mempercepat dan memperdalam proses interaksi supaya para profesional tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengenal perusahaan dan para wirausahawan tidak salah memilih profesional yang tepat baginya. Keberadaan konsultan ini akan sangat bermanfaat terutama jika HRD internal perusahaan tidak terlalu kuat. Selain obyektif, seorang konsultan yang memahami masalah-masalah psikologis individu akan mampu menjembatani banyaknya rintangan (terutama menyangkut psychological barriers) yang ada di dalam diri para wirausahawan atau para profesional.Hambatan PsikologisKetidak-mampuan seorang wirausahawan mempekerjakan profesional secara efektif seringkali disebabkan oleh faktor psikologis yang ada dalam diri sang wirausahawan sendiri. Ada banyak masalah psikologis yang menyebabkan seorang wirausahawan tidak mampu mempekerjakan atau bekerja sama dengan profesional. Beberapa di antaranya adalah:Wirausahawan merasa tidak secure dengan dirinya sendiri sehingga ia takut mempekerjakan profesional yang lebih baik atau lebih pintar dari dirinya. Ketakutan itu umumnya berasal dari ketakutan akan kehilangan kekuasaan. Wirausahawan jenis ini memiliki tendensi untuk mempekerjakan profesional lebih berdasarkan loyalitas dan bukan kompetensi. Gaya kepemimpinan yang digunakan juga sangat otoriter untuk melindungi kerentanan dirinya. Dia tidak akan membiarkan para profesional yang dipekerjakan itu nampak lebih pintar atau lebih benar dari dirinya, bahkan sebisa mungkin dia akan sering membuat mereka “mati-kutu” dengan perdebatan-perdebatannya yang kadang-kadang tidak relevan atau ”terkesan mau menang sendiri”. Dalam kondisi demikian, para profesional seakan kehilangan kemampuan untuk menjadi dirinya sendiri dan memilih untuk tidak mem-provokasi si wirausahawan. Keputusan yang semestinya mampu dibuat oleh para profesional ternyata tetap dipegang oleh si wirausahawan bahkan untuk hal-hal yang terkecil. Laporan diminta bukan untuk dipelajari tetapi untuk memberikan kesan bahwa yang memegang kekuasaan adalah si wirausahawan. Profesional pun menjadi kecil hati dan seringkali kehilangan rasa percaya diri.Masalah lainnya adalah ketakutan dibohongi atau dikhianati oleh profesional sehingga mengakibatkan rendahnya rasa saling percaya antara wirausahawan dengan profesionalnya. Wirausahawan curiga dan para profesional takut dicurigai. Akibatnya, interaksi antara wirausahawan dengan profesional menjadi sangat tidak sehat. Kesalahan demi kesalahan dijadikan “justification” bagi wirausahawan untuk membenarkan kecurigaannya. Di lain pihak, jika seandainya si wirausahawan memutuskan untuk mempercayai seseorang, maka dia akan menjadi sangat percaya pada orang tersebut apalagi jika profesional/manager yang dipekerjakannya menunjukkan “perceived loyalty”. Dalam hal ini kompetensi menjadi elemen nomor ke sekian.Wirausahawan seringkali salah dalam menilai para profesional (false intuition) . Penilaian seorang wirausahawan terhadap orang lain sangat dipengaruhi oleh beberapa keadaan: kemampuan wirausahawan untuk mengobservasi dan menilai secara obyektif, kemampuan memperhitungkan keadaan lingkungan (situational context) yang mempengaruhi tindakan orang lain dan kemampuan menganalisa dan memprediksikan keadaan bisnis di masa datang yang juga turut mempengaruhi perilaku atau pola pikir profesional. Kesalahan wirausahawan, terutama yang belum berpengalaman, adalah menilai dari sudut pandangnya sendiri tanpa menimbang sudut pandang orang lain, sehingga penilaian hanya terjadi sepihak dan subyektif. Jika hal ini didampingi oleh kerendahan hati si wirausahawan, maka profesional akan berani mengemukakan pandangannya. Dan dialog terbuka akan membawa pada keputusan yang lebih efektif. Celakanya, banyak wirausahawan yang merasa pandangannya lah yang paling benar, arogan dan tidak mau menerima pandangan profesional yang dipekerjakannya. Juga tidak mau/mampu menjelaskan alasan mengapa ia memiliki pandangan tersebut. Seringkali kata kunci adalah: "Pokoknya........" Dengan kondisi demikian, lama-kelamaan, para profesional akan menekan keahlian yang dimilikinya dan cenderung hanya menuruti asumsi si wirausahawan.Wirausahawan tidak bisa menghargai para profesional dan menganggap profesional hanyalah salah satu komoditas yang bisa dijual-belikan. Dia bersikap sebagai pembeli dan si profesional tidak lebih dari penjual keahlian. Profesional tidak lagi diterima sebagai manusia dengan derajat yang sama, melainkan mesin yang bisa diperah karena sudah dibeli dan dibayar mahal. Si wirausahawan merasa bahwa profesional yang “dibeli dan dibayar” tidak boleh membantah dan hanya perlu menurut saja.Wirausahawan dengan masalah-masalah di atas membawa dampak buruk pada perusahaan, di antaranya:Tendensi untuk mem-falsifikasi data. Para profesional di beri peluang hanya untuk memberi data yang membuat hati si usahawan ini senang, terutama yang berhubungan dengan illusion of success.Profesional tidak menjadi dirinya sendiri tapi menjadi kepanjangan tangan pemilik. Potensi kepintaran, keahlian dan identitas profesional yang ada menjadi redup di dalam perusahaan tersebut. Kreativitas mandek dan perasaan tidak berguna mulai tertanam sedikit-demi sedikit. Produktivitas menurun dan timbul rasa tidak percaya diri.Profesional menjadi “bonsai-bonsai” yang tidak bisa tumbuh secara alami karena setiap ide atau solusi yang dimilikinya tidak terpakai, padahal kesalahan tidak ada padanya.Profesional merasa dimanipulasi oleh majikannya dan perasaan ini mendorong/memotivasi profesional untuk membalas dengan melakukan tindakan destruktif yang merugikan perusahaan, misalnya penyalahgunaan wewenang, korupsi atau pencurian. Di sisi lain, besar kemungkinan bahwa seorang profesional juga memiliki masalah psikologis yang mampu secara langsung atau tidak langsung mencelakakan perusahaan, si wirausahawan atau diri si profesional itu sendiri. Ada dua kemungkinan di mana keadaan psikologis si profesional dapat membahayakan perusahaan:Pada saat para profesional merasa keahlian mereka pasti benar dan mutlak. Akibatnya mereka menjadi tinggi-hati dan tidak mengerti akan ketakutan atau keraguan si wirausahawan, sehingga mengambil risiko-risiko bisnis tanpa mempertimbangkan apa yang pernah dialami oleh wirausahawan di masa lalu atau keadaan psikologis mereka saat itu. Sikap ini bisa merupakan arogansi keahlian, terutama jika wirausahawan memiliki wawasan atau pendidikan yang lebih rendah, atau merupakan mekanisme pertahanan diri karena profesional tersebut merasa tertekan di dalam pekerjaan mereka. (Baca juga artikel: Mengenal Mekanisme Pertahanan Diri)Pada saat para profesional merasa takut untuk membuat keputusan karena tidak mampu menghadapi risiko kehilangan atau kesalahan. Rasa tanggung jawab yang begitu besar bisa membuat seorang profesional merasa kecil atau kehilangan rasa percaya diri. Ia juga merasa bahwa kegagalan perusahaan adalah kegagalan pribadinya sendiri. Jika keahliannya tidak melebihi kemampuan untuk mengendalikan risiko-risiko ini, maka dia cenderung untuk tetap bergantung pada keputusan si wirausahawan. Salah satu solusinya adalah meningkatkan kompetensi yang dimilikinya atau menyelesaikan masalah psikologis yang dimilikinya sehingga tidak lagi mempengaruhi kemampuannya berkarya.Beberapa SaranSebagai wirausahawan, beberapa kiat berikut ini mungkin layak Anda pertimbangkan dalam memilih para profesional yang tepat untuk membantu anda mengelola bisnis anda.Sadarilah keadaan psikologis diri sendiri karena itu yang menjadi titik terlemah dalam memilih alternatif solusi dan pembuatan keputusan. Self-awareness akan membuat wirausahawan mampu keluar dari ketakutan-ketakutannya. Konsultasi psikologis bisa dilakukan sebagai dasar atau awal pengenalan diri guna memahami faktor-faktor yang merupakan kelebihan atau pun kekurangan yang dimiliki. (Baca juga artikel: EQ dalam Kepemimpinan & Tanda-tanda Kedewasaan Seorang Pemimpin)Untuk posisi eksekutif puncak yang bergerak di strategic level, carilah mereka yang memiliki visi yang sama, stamina yang prima dan kemampuan analisis yang baik. Jangan kita memilih hanya karena dia punya reputasi yang baik saja, tetapi lebih karena dia memiliki potensi untuk menjadi baik di masa yang akan datang.Untuk posisi profesional di level operasional, sebaiknya di pilih profesional yang keahliannya jauh lebih baik dari pemilik, tapi di samping itu dia juga memiliki kemampuan untuk menyelaraskan keahlian ini dengan visi dan tujuan perusahaan. Salah satu kesalahan wirausahawan adalah membajak profesional yang memiliki track record of success di perusahaan lain tetapi lupa mempertimbangkan bahwa kesuksesan mereka di perusahaan lain sangat tergantung pada kondisi perusahaan itu sehingga ketika dia mesti berkiprah di perusahaan baru dengan kondisi yang lain, itu malah menjadi awal dari kehancuran karir profesional tersebut. Richard Ritti & Ray Funkhouser (1987) dalam buku "The Ropes to Skip & The Ropes to Know" menyebutnya sebagai "The Peter Principle” – mengacu pada karakter kartun Peter Pan yang suka mengejar bayang-bayangnya sendiri dan hanya bermain di dunia fantasy. Julukan ini diberikan pada para profesional yang dipromosikan pada ke sebuah level di mana dia tidak mampu lagi menjadi produktif tetapi malah menjadikan perusahaan play-land di mana dia mengejar bayang-bayangnya (citra, kesuksesan masa lalu, cita-cita).Belajar untuk menghargai profesional sebagai seorang individu yang memiliki kepribadian sendiri disamping keahliannya. Membiarkan profesional yang dipekerjakan menjadi dirinya sendiri berarti membuat potensi dan keahliannya berkembang sehinggga bisa menjadi lebih kreatif dan produktif. Kontrol dan rasa curiga yang berlebihan malah akan mencelakakan kedua-belah pihak.Sehebat atau sepintar apapun seorang profesional, ia tetap akan memerlukan visi atau arah perjalanan perusahaan. Ia juga perlu kejelasan akan batasan kewenangan dan tanggung jawab sehingga ia berani membuat keputusan dan mencari solusi yang tepat. Selain itu, berikan kesempatan untuk mandiri. Seorang profesional sejati tidak akan pernah mampu bekerja jika ia terus didikte, dikontrol atau dicurigai.Sementara bagi para profesional, dibutuhkan sejumlah karakter agar dapat menjalankan fungsinya secara efektif. Beberapa karakter yang harus dimiliki tersebut antara lain: Kesadaran bahwa ia tetap profesional dan bukan pemilik. Ia harus mampu mengerti tentang pandangan para pemilik/wirausahawan. Para profesional juga harus bisa mengerti bahwa pemilik memiliki pengalaman, keinginan, cita-cita, dan cara pandang tertentu yang mungkin tidak dimilikinya. Galilah hal-hal ini pada proses adaptasi. Kemampuan untuk menterjemahkan keinginan pemilik, menggunakan keahliannya untuk menyelaraskan dengan keadaan operasional dan membuat keinginan itu terlaksana secara nyata. Hal ini tidak bisa diberikan dengan membuat laporan yang sarat dengan ilusi sukses untuk kepentingan diri sendiri, sebab suatu saat ilusi itu akan terungkap juga. Kasus Enron, Worldcom and Xerox yang akhir-akhir ini marak menghiasi media bisnis terjadi karena mekanisme ini. Dalam kasus-kasus tersebut, profesional hanya peduli pada keinginannya sendiri (mendapat uang sebanyak mungkin) dengan mendongkrak nilai saham dengan manuver akunting yang jelas-jelas menyalah gunakan kepercayaan si pemilik (publik)Mampu menjembatani kesenjangan komunikasi antara pemilik dan bawahan. Para pemilik biasanya melihat bisnis dan perusahaannya dari sisi makro, sedangkan pekerja melihat dari sisi mikro (sebatas pekerjaan dalam departemen atau divisinya sendiri). Eksekutif profesional harus mampu membedakan kedua sisi ini dan mengkomunikasikan sebagian sisi makro pemilik untuk pekerja dan sebagian sisi mikro pekerja pada pemilik sehingga ada saling pengertian di antara kedua sisi ini yang akan termanifestasikan ke dalam kebijaksanaan perusahaan yang memang betul-betul bijak. Dengan demikian, tidak ada lagi persepsi bahwa perusahaan hanya bisa memeras pekerja atau pekerja yang hanya menumpang hidup pada perusahaan.Mampu memberikan alternatif solusi yang tidak dilihat oleh para pemilik. Kelebihan profesional yang diinginkan oleh para pemilik adalah kemampuannya memecahkan masalah dan memberikan solusi. Seringkali, karena beberapa hal para profesional datang kepada pemilik dan memberikan masalah yang dihadapinya tanpa disertai solusi. Fungsi profesional seperti ini hanya merupakan “messenger” saja dan tidak mencerminkan profesionalisme mereka. Pemilik merasa terkecoh, sebab keinginannya dengan mempekerjakan profesional tidak terpenuhi. Dia malah lebih bingung dalam menilai karena mungkin saja pendapat profesional itu tidak sama dengan pendapatnya sendiri.

BI: Pelaku Usaha Kecil Mikro tidak Terjangkau Bank

BI: Pelaku Usaha Kecil Mikro tidak Terjangkau Bank
BI: 30 Juta Pelaku Usaha Kecil Mikro tidak Terjangkau BankAntara (03/09/2007), Jakarta-RoL -- Bank Indonesia (BI) memerkirakan sekitar 30 juta pelaku usaha kelompok usaha kecil dan mikro (UKM) hingga saat ini belum terjangkau kredit bank."Sekarang ini nasabah UKM yang memiliki rekening di bank hanya sekitar 19 juta nasabah, padahal jumlah UKM kita mencapai sekitar 48 juta, jadi diperkirakan ada sekitar 30 juta UKM yang tidak memiliki akses ke bank," kata Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah di Gedung DPR/MPR Jakarta, Senin (3/9).Menurut dia, di lapangan banyak ditemui usaha kecil dan mikro yang sebenarnya layak mendapat kredit dari bank hanya saja memang mereka tidak "bankable" sehingga perlu dibantu dengan adanya penjaminan kredit."Kita sering melihat adanya tukang soto, tukang tambal ban, dan lainnya. Usaha mereka layak dan menguntungkan hanya saja memang tidak bankable karena tidak memiliki agunan yang memadai," katanya.Guna membuka akses UKM kepada kredit perbankan, maka pihaknya mendukung upaya pemerintah untuk meningkatkan kapasitas lembaga penjaminan kredit sehingga sekitar 30 juta pelaku UKM dapat diserap oleh perbankan.Pada kesempatan yang sama Burhanuddin mengatakan, kredit perbankan yang disalurkan kepada sektor UMKM secara bertahap terus meningkat. Dalam kurun waktu setahun, kredit UMKM telah tumbuh 18,4 persen (yoy) atau mencapai Rp 72 triliun dari total penyaluran pada Juni 2006 yang sebesar Rp390 triliun."Masih cukup luasnya potensi sektor UMKM di Indonesia juga tercermin dari pangsa kredit UMKM yang mencapai 52,5 persen dari total outstanding kredit nasional," katanya.

Jatuh Cinta Sebagai Kejadian Spiritual

Jatuh Cinta Sebagai Kejadian Spiritual

Oleh: Gede Prama
Setiap orang pernah jatuh cinta. Umumnya, jatuh cinta itu terjadi pada orang dengan lawan jenis. Tidak ada satupun kata-kata yang bisa mewakili perasaan jatuh cinta. Sebutlah kata senang, gembira, bahagia, bergetar, berdebar, takut kehilangan, cemburu, ingin selalu bersama, semua terlihat bersinar dan menyenangkan, tetap saja tidak bisa mewakili seluruh nuansa jatuh cinta.
Biasanya yang lama diingat orang melalui kejadian-kejadian jatuh cinta adalah perasaan-perasaan yang ada di dalam. Memegang tangan pasangan saja membuat jantung berdebar. Melihat matanya yang dibalut senyum bisa membuat terkenang-kenang selamanya. Kata-kata pertama yang menunjukkan lawan jenis kita tertarik dan jatuh cinta pada kita, bisa menjadi satu rangkaian kalimat yang terdengar di telinga setiap hari. Memperhatikan rambut, tata krama, cara berpakaian, cara bicara lawan jenis kita, semuanya tampak pas dan sempurna. Dan pada akhirnya membuat kita seperti memiliki dunia ini seorang diri.
Inilah rangkaian hal yang membuat cinta diidentikkan dengan perasaan (feeling). Banyak sudah lagu, film, sinetron, novel, syair, puisi yang lahir dari sumber cinta sebagai perasaan. Kalau kemudian banyak yang memberikan kesan cinta itu cengeng, lemah, tangisan dan sejenisnya, itu hanyalah sepenggal pemahaman tentang cinta sebagai perasaan.
Ada dimensi kedua dari cinta yang layak dicermati setelah cinta sebagai perasaan, yakni cinta sebagai sebuah kekuatan (power). Coba perhatikan pengalaman jatuh cinta kita masing-masing. Ada kekuatan maha dahsyat yang ada di dalam diri, yang membuat badan dan jiwa ini demikian perkasanya. Seolah-olah disuruh memindahkan gunungpun rasanya bisa. Hampir tidak ada penugasan dari lawan jenis yang kita cintai yang tidak bisa diselesaikan. Mulut ini seperti dengan cepatnya berteriak : bisa !
Bermula dari pemahaman seperti inilah maka Deepak Chopra dalam The Path To Love, menyebut bahwa jatuh cinta adalah sebuah kejadian spiritual. Ia tidak semata-mata bertemunya dua hati yang cocok kemudian menghasilkan jantung yang berdebar-debar. Ia adalah tanda-tanda hadirnya sebuah kekuatan yang dahsyat. Persoalannya kemudian, untuk apa kekuatan dahsyat tadi dilakukan.
Kaum agamawan nan bijaksana menggunakan kekuatan terakhir sebagai sarana untuk bertemu Tuhan. Usahawan yang berhasil menggunakan tenaga maha besar ini untuk menekuni seluruh pekerjaannya. Ibu yang mencintai keluarganya mengabdikan seluruh tenaganya untuk mencintai anak dan suaminya. Pekerja yang menyadari kekuatan ini menggunakannya untuk bekerja mencari harta di jalan-jalan cinta. Banyak orang yang dijemput keajaiban karena kemampuan untuk membangkitkan tenaga maha dahsyat ini.
Anda bisa bayangkan, tentara Inggris yang demikian perkasa harus pergi dari India karena kekuatan cinta Mahatma Gandhi beserta pejuang lainnya. Negeri ini dideklarasikan secara amat gagah berani melalui cinta duet Sukarno-Hatta. Demokrasi Amerika berutang amat banyak pada cinta George Washington. Raksasa elektronika Matsushita Electric dibangun di atas tiang-tiang cinta Konosuke Matsushita. Microsoft sampai sekarang masih dipangku oleh kecintaan manusia luar biasa yang bernama Bill Gates. Sulit membayangkan bagaimana seorang Jenderal besar Sudirman bisa memimpin pasukan melawan Belanda dengan badan yang sakit-sakitan, kalau tanpa modal cinta yang mengagumkan. Wanita perkasa dengan nama Kartini mengambil resiko yang demikian tinggi untuk mengangkat derajat kaumnya, apa lagi yang ada di baliknya kalau bukan kekuatan-kekuatan cinta.
Boleh saja Anda menyebut rangkaian bukti ini sebagai serangkaian kebetulan, tetapi saya lebih setuju dengan Deepak Chopra yang menyebut bahwa jatuh cinta adalah sebuah kejadian spiritual. Dari sinilah sang kehidupan kemudian menarik kita tinggi-tinggi ke rangkaian realita yang oleh pikiran biasa disebut luar biasa. Di bagian lain bukunya, Chopra menulis : ‘merging with another person is an illusion, merging with the Self is the supreme reality’. Bergabung dengan orang lain hanyalah sebuah ilusi, tapi bergabung dengan sang Diri yang sejati, itulah sebuah realita yang maha utama.
Jatuh cinta sebagai kejadian spiritual, yang dituju adalah bergabungnya diri kita dengan Diri yang sejati. Ada yang menyebut Diri sejati terakhir dengan sebutan Tuhan, ada yang memberinya sebutan kebenaran, ada yang menyebutnya dengan inner life, dan masih banyak lagi sebutan lainnya. Apapun nama dan sebutannya, ketika Anda menemukannya, kata manapun tidak bisa mewakilinya. Yang ada hanya : ahhhhh !
Serupa dengan pengalaman jatuh cinta ketika kita masih muda, di mana semua unsur badan dan jiwa ini demikian kuat dan perkasanya, demikian juga dengan jatuh cinta sebagai kejadian spiritual. Ia mendamaikan, menggembirakan, mencerahkan, mengagumkan dan menakjubkan. Dan yang paling penting, semuanya kelihatan serba sempurna. Air sungai, daun di pohon, desir angin, suara ombak, wajah pegunungan, demikian juga dengan pekerjaan, keluarga, atasan, bawahan. Seorang sahabat yang kerap jatuh cinta seperti ini, pernah mengungkapkan, dalam keadaan jatuh cinta, setiap lembar daun di pohon apapun terlihat seperti sehalaman buku suci yang penuh inspirasi. Setiap hembusan angin adalah pelukan-pelukan tangan kekasih yang amat menyentuh. Setiap suara air adalah nyanyian-nyanyian rindu yang menyentuh kalbu. Anda tertarik ?

Selasa, 12 Januari 2010

PROPOSAL PROGRAM PENGEMBANGAN LOKASI PONDOK PESANTREN NURUL UMMAH KOTAGEDE YOGYAKARTA

PROPOSAL PROGRAM PENGEMBANGAN LOKASI

PONDOK PESANTREN NURUL UMMAH

KOTAGEDE YOGYAKARTA

A. Profil Pondok Pesantren Nurul Ummah

1. Sejarah Singkat Pondok Pesantren Nurul Ummah

Pondok Pesantren Nurul Ummah (PPNU) yang terletak di kelurahan Prenggan Kecamatan Kotagede Kota Yogyakarta didirikan pada tanggal 09 Februari 1986 oleh KH. Ahmad Marzuqi Romli, seorang ulama’ yang berasal dari Giriloyo Imogiri Bantul Yogyakarta. Pendirian pesantren ini, pada hakikatnya dilandasi oleh rasa tanggung jawab pribadi beliau selaku hamba Allah untuk menyeru kepada kebajikan, dan mencegah kemungkaran, serta adanya rasa tanggung jawab sosial sebagai anggota masyarakat untuk membina dan mendidik umat dalam mempelajari, memahami, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Pemberian nama PPNU itu --- di samping merupakan salah satu usulan dari H. Ahmad Arwan Bauis, S.H. ---, adalah merupakan hasil dari musyawarah bersama yang kemudian menyetujuinya sebagai nama pesantren tersebut. Dengan dipilihnya nama “Nurul Ummah” yang berarti “Cahaya Ummat” ini diharapkan PPNU disamping bisa menjadi lembaga pendidikan Islam sebagai tempat mendalami agama (tafaqquh fi al-din), juga mampu memberikan sinar pencerahan yang menerangi dan mengarahkan Umat dalam menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat (al-sa’âdah fi al-dârayn).

Adapun tanah yang dipakai untuk lokasi PPNU, yaitu seluas 1677 m² (yang sekarang untuk komplek A, B, C, D dan ruang-ruang perkantoran dan gudang, dll) dan 670 m² (sekarang untuk Gedung MDNU, MANU, dll), adalah tanah wakaf yang semula diserahkan oleh KH. Abdul Muhaimin dan atas dukungan keluarga H. Marzuqi (alm.), Prenggan Kotagede, kepada Almarhum KH. Marzuqi Romli, Giriloyo, agar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk Pondok Pesantren, yang mana setelah ditelusuri, sesuai dengan petunjuk pada surat-surat tanah yang ada, tanah tersebut ternyata milik Almarhum H. Anwar yang beralamat di Kepunton Solo, yang juga merupakan orang tua dari H. Muslim (alm.), pemilik Wisma Proyodanan Kotagede Yogyakarta.

Setelah melalui proses yang agak panjang, kurang lebih sekitar 2 (dua) tahun, akhirnya tanah wakaf tersebut secara resmi diterima oleh KH. Marzuqi Romli (alm.) setelah para ahli waris Bapak H. Anwar (alm.) dihubungi guna pengurusan surat perwakafan tanah tersebut.

Sedangkan peletakan batu pertama pembangunan PPNU dilaksanakan pada tanggal 9 Pebruari 1986 dalam suatu upacara resmi yang dihadiri oleh Bapak Sugiarto, Walikota Yogyakarta pada waktu itu dan pejabat-pejabat lain di lingkungan Kotamadya Yogyakarta, serta para alim ulama’ di sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebagai suatu lembaga secara legal formal, PPNU telah terdaftar di Departemen Agama ditandai dengan pemberian Piagam Pondok Pesantren oleh Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor: A 8655 pada tanggal 9 Juli 1986.

2. Perkembangan Pondok Pesantren Nurul Ummah

Sampai saat ini PPNU telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama yang berkaitan dengan bidang pendidikan. Banyak lembaga pendidikan di bawah PPNU yang didirikan selama kurun waktu lima tahun terakhir. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai lembaga-lembaga di PPNU dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

No.

Nama Lembaga

Jml.

Kelas

Jml.

Siswa

Keterangan

1

Madrasah Diniyah Nurul Ummah

8

250

2

Madrasah Diniyah Nurul Ummah Putri

7

200

3

Madrasah Aliyah Nurul Ummah

3

97

4

Taman Pendidikan Al-Qur’an Nurul Ummah

6

90

5

Madrasah Tsanawiyah Nurul Ummah

1

11

6

Taman Kanak-Kanak Nurul Ummah

1

15

7

Koperasi Nurul Ummah Putra-Putri

1

-

Memenuhi kebutuh-an santri dan masya-rakat sekitar

8

Badan Usaha Milik Pesantren

-

9

Majalah Pesantren Tilawah

Terbit tiap 6 bulan sekali

10

Lembaga Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat

10 Desa Bina di Gunungkidul dan Bantul

11

Balai Pengobatan al-Muhajirin

Melayani kebutuhan santri dan masyarakat sekitar

12

Lembaga Bahasa Nurul Ummah (Arab-Inggris)

13

JAmiyah al-Qurra wa al-Huffazh (JQH)

14

Sanggar Sangkakala (Sangkal)

15

Nurma Rebana

16

Penerbit Nurma Media Idea

Dari berbagai lembaga yang ada tersebut, semakin hari semakin berkembang baik jumlah siswa/santri maupun jenis usaha yang telah dilakukan. Sehingga memunculkan masalah baru terutama bagaimana menyediakan berbagai fasilitas yang memadai dan saat ini yang paling dirasakan adalah menyediakan lokasi/gedung yang memadai.

B. Nama Program

Program ini bernama “Program Pengembangan Lokasi Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta”.

C. Tujuan

Program ini bertujuan untuk memenuhi segala kebutuhan yang berkaitan dengan pemenuhan lokasi untuk kegiatan pendidikan dan sosial yang ada di Pondok Pesantren Nurul Ummah khususnya dan masyarakat pada umumnya.

D. Target

Program ini mentargetkan semua kegiatan pendidikan dan sosial Pondok Pesantren Nurul Ummah dapat berjalan dengan baik dengan membeli tanah seluas 1178 m2 yang terletak di Rt. 26 Rw. 06 Prenggan Kotagede Yogyakarta seharga Rp. 300.000,- per m2 .

E. Pelaksanaan

Program ini akan dilaksanakan mulai bulan November 2005 – Juli 2006 oleh Panitia Kerja Pembelian Tanah untuk Perluasan Pondok Pesantren Nurul Ummah. (Daftar panitia terlampir)

F. Pembiayaan

Program ini membutuhkan dana sebesar Rp. 353.400.000,00 (Tiga ratus lima puluh tiga juta empat ratus ribu rupiah) yang diperoleh dari:

1. Iuran wali santri

2. Infaq/shodaqoh dari para donatur

3. Usaha-usaha lain yang halal dan tidak mengikat

G. Penutup

Demikianlah proposal ini dibuat sebagai landasan konseptual maupun operasional dalam pelaksanaan Program Pengembangan Lokasi Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta. Atas kerja sama dan partisipasi semua pihak diucapkan terima kasih.

Semoga Allah SWT. senantiasa memberikan kekuatan, pertolongan dan kesabaran dalam memperjuangkan agama dan menggapai ridlaNya. Jazaakumullaah Ahsanal Jazaa’, Amien.

Yogyakarta, 26 November 2005

Panitia Pelaksana,

H. NGAJIRIN SYAMSUL ANAM, S. Ag.

Ketua Sekretaris

Mengetahui,

Pengasuh PP. Nurul Ummah Pengurus PP. Nurul Ummah

Hj. BAROKAH ASYHARI KODIRUN, S.Ag.

PANITIA

PEMBANGUNAN MESJID AGUNG ASSALAAM TERMEN KE V

YAYASAN PONDOK PESANTREN ASSALAAM

SALAMJAYA - PABUARAN - SUBANG

A. MUQODDIMAH

Dengan memanjatkan Puja dan Syukur kehadirat Ilahi Robbi yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada manusia dengan akal sehat. Sholawat eserta salam, semogaselalu terlimpah atas Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, kepada keluarganya dan para Shohabatnya yang telah diutus membawa ajaran Al-Qur'an sebagai pedoman hidup manusia.

Selanjutnya, membina dan menciptakan satu generasi Islam bukan pekerjaan yang mudah, tapi diperlukan proses yang lama disamping aspek material yang jumlahnya banyak, perlu ketekunan dan kesabaran dalam mentransformasikan nilai-nilai sehingga menjadi nilai yang membumi dan nyata, bukan sekedar nilai yang bergerak dari mulut kemulut, sebab Islam itu sendiri adalah Agama yang menekankan sikap dan perilaku yang harmonis. Logis kalau Allah SWT meningkatkan kwalitas orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan, sebab agama itu sendiri dilahirkan bagi orang-orang yang berakal, tidak ada agama bagi mereka yang hilang akalnya. Melestarikan Syari'at (ajaran) dan kepedulian terhadap terciptanya generasi yang berilmu, dan kehadirannya menjadi satu kebutuhan yang tidak bisa dihindari, sebab melalui lembaga seperti ini, setiap generasi akan menemukan jati dirinya untuk meneruskan Syari'at Islam di muka bumi ini dan mengumandangkan nilai-nilai kebenaran menurut ajaran Islam. Dan untuk merealisasikan niat tersebut maka harus ada sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaannya. Mesjid adalah tempat yang memadai karena Mesjid merupakan tempat suci untuk beribadah dan sarana umat Islam yang diharapkan lewat Jama'ah Mesjid dan Jama'ah Pengajian akan lahir manusia kuat keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

" Barang siapa yang membangun Mesjid karena mengharap Ridho Allah SWT, yang didalamnya diingat (disebut) nama Allah SWT, maka Allah akan membangun rumah untuknya di Surga "

(HR. Ibnu Majjah dan Ibnu Hibran r.a)

B. DASAR PEMIKIRAN

  1. Al-Qur'an dan Al-Hadits.
  2. Musyawarah Panitia Pembangunan Mesjid pada tanggal 01 Mei 200, bertempat di Yayasan Pondok Pesantren Assalaam Salamjaya Pabuaran Subang.
  3. Mensukseskan Program Pencerdasan Kehidupan Bangsa yang dicita-citakan oleh Amanah Kemerdekaan.
  4. Untuk menjamin rasa Persatuan dan Kesatuan (Ukhuwah Islamiyah) yang akrab antara Jama'a dan lingkungan masyarakat sekitarnya.
  5. Tempat kegiatan Muslimin - Muslimat dalam rangka melaksanakan Peringatan Hari-hari besar Islam disamping Ibadaj Pokok.

C. TUJUAN

  1. Mengembangkan Kreatifitas anak dalam Pendidikan Agama Islam agar tumbuh berkembang menjadi nilai Spiritual yang handal disekitarnya.
  2. Menyebarluaskan Ajaran Agama Islam.
  3. Tempat belajar Santri Pondok Pesantren Assalaam khususnya dan Masyarakat sekitar pada umumnya.
  4. Membina generasi bangsa terutama dalam memperoleh Pengetahuan Ilmu Agama Islam sebagai modal hidupnya dimasa mendatang.


D. FASILITAS MESJID AGUNG

  1. Sarana Peribadatan yang sekaligus Pusat Kegiatan para Santri
  2. Bangunan Pondok Pesantren yang berdiri di ruang kelas, sarana kegiatan belajar atau mengajar
  3. Asrama Putra dan Putri sebagai tempat muqim para santri sekaligus untuk menunjang ketertiban belajar dan mengajar.
  4. Raudlotul Athfal, Madrotsatul Ula, Madrotsatul Wustho, Madrotsatul Aly, sebagai tempat belajar Siswa dan Siswi.
  5. Kantor Sekretariat.
  6. Ruang Praktek Keterampilan.
  7. Perumahan Ustadz dan Ustadzah.
  8. Dapur Umum (DPU).
  9. Klinik Kesehatan (POSKESTREN)

E. NAMA KEGIATAN DAN LOKASI

  1. Pembangunan Mesjid Agung Assalaam dan Fasilitasnya yang dibangun diatas tanah wakaf (0,10 Ha Tanah Wakaf) dan 0,20 Ha tanah Keluarga Pondok Pesantren.
  2. Lokasi Pembangunan :
  1. Kampung : Leuweung Buah RT. 02 / 01 Komplek Pesantren Assalaam
  2. Desa : Salamjaya
  3. Kecamatan : Pabuaran 41262
  4. Kabupaten : Subang
  5. Propinsi : Jawa Barat

F. WAKTU PELAKSANAAN

  1. Pelaksanaan Pembangunan Mesjid Agung disesuaikan dengan keadaan dana yang tersedia.

G. PEMBIAYAAN BANGUNAN MESJID

  • Sumber Dana :
  1. Amal Jariyah, Infaq, Shodakoh dan Zakat Mal dari Umat Islam
  2. Bantuan Pemerintah, Badan Sosial Swasta
  3. Donatur Tetap dari Dermawan-dermawati
  4. Bantuan / Sumbangan dari Dalam dan Luar Negeri.
  • Biaya Pembangunan Mesjid :
  1. Berdasarkan standar harga satuan yang berlaku di Kabupaten Subang pada tahun 2007 untuk Pembangunan Agung Assalaam Termen ke V ini, yang berukuran 20x20 m2, yang diperkirakan menghabiskan biaya sebesar Rp.521.175.000,- (Terbilang : Lima Ratus Dua Puluh Satu Juta Seratus Tujuh Puluh Lima Ribu Rupiah)
  2. Pembebasan Tanah 10.000 m2, setiap 1 m2 seharga Rp. 50.000,-
  3. Perincian Anggaran Biaya terlampir

H. SUSUNAN KEPANITIAAN

PANITIA

PEMBANGUNAN MESJID AGUNG ASSALAAM TERMEN KE V

YAYASAN PONDOK PESANTREN ASSALAAM

SALAMJAYA - PABUARAN - SUBANG

Pelindung : Camat Pabuaran Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat

Penasehat : KH. Ma'mun Murod AB (Pimpinan Umum Pesantren Assalaam)

Ketua : Iif Syaripudin

Sekretaris : Sofyan Tsauri

Bendahara : - Abdul Fajar

- Tasdi Permana

Seksi

Bangunan : - Bapak H. Encep Basyri

- Bapak Syihabudin

- Bapak Akam

- Bapak Aking

- Bapak Rais

Usaha : - Ust. Ade Hilmi

- Ust. Supardi

- Ust. Endin Muhyidin

Humas : - Muhammad Dahyan

- Nursyamsi

- Bapak Minta Martadinata

- Roni Solehudin

I. PENUTUP

Demikian Proposal ini disusun dengan diiringi do'a semoga dalam cita-cita ini Allah SWT senantiasa melimpahkan Taufiq dan Hidayah Nya sehingga Pembangunan ini berhasil dan sukses demi kemajuan Umat Islam, Amin.

Dengan Proposal yang sederhana ini, mudah-mudahan segala yang direncanakan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak yang terkait dan ridho Allah SWT, sehingga apa yang diencnakan ada dalam kelancaran.

Dengan segala kerendahan hati, kami selaku panitia mengucapkan rasa terima kasih atas perhatian dan bantuannya, semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan ketabahan kepada kita sekalian untuk dapat menyelesaikan pembangunan ini.

Wassalaam,

Subang, 08 Agustus 2007

PANITIA PEMBANGUNAN MESJID AGUNG ASSALAAM

Ketua

IIF SYARIPUDIN

Sekretaris

SOFYAN TSAURI


Mengetahui,

Pimpinan Umum YPPA

KH. MA'MUN MUROD AB

Kepala Desa Salamjaya

MUHAMMAD MADJA

Camat Pabuaran

KARWITA BA































Memahami Hukum Syariah

Memahami Hukum Syariah

Memahami Islam tidak akan lengkap bila kita tidak mengetahui hukum-hukumnya. Melalui hukumlah aturan yang berasal dari nilai-nilai Islam dapat dilaksanakan. Dalam Islam ada dua macam: hukum taklifi dan hukum wadh’I.

Hukum taklifi adalah hukum yang menjelaskan tentang perintah, larangan dan pilihan untuk menjalankan atau meninggalkan suatu kegiatan/pekerjaan. Sebagai contoh: hukum yang menyangkut perintah seperti shalat, membayar zakat dll. Hukum wadh’I adalah hukum yang menyangkut sebab terjadinya sesuatu, syarat dan penghalang. Sebagai contoh: hukum waris.

II. Tujuan Hukum Syariah

Tujuan hukum syariah ada tiga macam, yaitu:
1. Pensucian jiwa, menjadikan muslim penyebar kebaikan bukan penyebab keburukan.
2. Menegakkan keadilan dalam masyarakat baik dengan sesama muslim maupun non muslim.
3. Bermanfaat bagi seluruh alam semesta tidak hanya manusia.

III. Sumber Hukum

Sumber hukum dalam Islam ada lima, yaitu:

1. Al Qur’an
2. As Sunnah
3. Ijma’ yaitu kesepakatan para mujahid dalam suatu masa setelah wafatnya Rasulullah SAW.
4. Fatwa sahabat
5. Qiyas

IV. Pembagian Hukum Taklifi

Berdasarkan jumhur ulama (pendapat mayoritas ulama), hukum terbagi menjadi lima macam, yaitu:

1. Wajib yaitu suatu perintah yang apabila tidak dilaksanakan berdosa. Wajib terbagi menjadi dua macam:

a. Wajib yang memiliki waktu yang luas disebut wajib muwassa. Keluasaan waktu itu memungkinkan kita untuk melaksanakan ibadah yang lain.
b. Wajib memiliki waktu yang terbatas disebut wajib mudhayyaq. Ibadah itu hanya dapat dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan dan tak dapat dilakukan diluar waktu tersebut. sebagai contoh puasa di bulan Ramadhan, ibadah haji di bulan Dzulhijah.

2. Sunnah yaitu perbuatan yang apabila dilaksanakan berpahala dan bila tidak dilaksanakan ia akan merugi walaupun tidak berdosa. Sunnah terbagi menjadi tiga macam:

a. Sunnah Muakkad, yaitu sunnah yang dijalankan oleh Rasulullah SAW secara kontinyu, contoh shalat dua rakaat setelah shubuh.
b. Sunnah Ghairu Muakkad, yaitu sunnah yang dilakukan tidak secara kontinyu, contoh: shalat empat rakaat sebelum zhuhur.
c. Sunnah di bawah keduanya, yaitu kebiasaan yang dilakukan Rasulullah SAW seperti bersiwak (sikat gigi).

3. Mubah yaitu kebebasan bagi muslim untuk melaksanakan suatu pekerjaan atau meninggalkannya. Contoh makan, minum, dsb.

4. Makruh yaitu suatu larangan secara syara terhadap suatu perbuatan namun tidak bersifat pasti karena tidak ada dalil yang menunjukkan haramnya perbuatan tersebut, meninggalkan perbuatan tersebut terpuji dan mengerjakannya tercela.

5. Haram yaitu larangan untuk melakukan suatu pekerjaan baik yang ditetapkan berdasarkan dalil qath’i dan zhonni.